MEMULAI
Entah
darimana aku mulai menyusun kembali dari rasa perih dan sakit pada masa lalu
untuk menyusun yang baru. Aku mulai mencoba untuk menutup rapat yang membuatku
ingin kembali masa lalu. Ternyata, itu kesalahan terbesar berarti aku terlalu
membatasi diri dari masa lalu. Dan kumulai untuk sadar meskipun harus
bersentuhan dengan masa lalu seharusnya merasa tidak ada batas antara aku
dengan dia.Meskipun sulit dan sampai saat ini belum sepenuhnya aku jalani dan
aku merasakan masih ada sedikit rasa rindu terhadap dirinya, mungkin rindu
menjadi masalah terbesar dan terberat yang harus aku hadapi dalam waktu dekat
ini lalu aku harus mencari penawar untuk mengatasi hal ini. Tidak ada seorang
pun yang bisa menghilangkan rasa rindu pada sesuatu tapi setiap orang punya
cara mengatasinya dengan mengisi waktu luang agar tidak terlalu mengingat rindu
pada dirinya. Mencoba mengikhlaskan dan merelakannya untuk pergi dan tidak
terlalu sering mengingat masa lalu mungkin solusi tapi tidak selamanya bisa
selesai dengan mudah membutuhkan ketekunan dan keistiqamahan tapi dengan itu
sangat mempermudah melakukan sebuah pekerjaan. Sekarang tinggal melatih
kebisaan baik yaitu: istiqamah dan tekun dengan disiplin dan rutin.
Aku memulai
kebiasaan baik dari hal terkecil yang aku lakukan dengan ringan tanpa beban
mengerjakan hal kecil dan baik. Disiplin sebuah kata yang dilakukan sulit
karena butuh paksaan dan bentuknya memaksa, sedangkan rutin itu sebenernya
lebih mudah hanya tinggal membangkitkan rasa kesadaran. Sebelum bisa melakukan
itu harus memiliki niat dan tekad yang kuat, karena pasti ketika menjalaninya
ada rasa lelah,jenuh,dan bosan. Dan satu hal yang aku persiapkan dari awal
ketika malas melakukannya harus ada perencanaan untuk mengembalikan keadaan seperti
semula.
Memang semua hal yang direncakan itu baik tapi
perlu keberanian untuk mencoba kalau sangat jauh dari perencanaan karena yang
lebih dibutuhkan bukan sekedar kekuatan tapi ketahanan dalam menghadapi
permasalahan. Karena masalah bukan dilewati tapi dihadapi, jangan takut karena
tidak bisa melewati karena pasti ada solusi untuk menyelesaikannya. Mungkin setelah
ini aku bisa melupakanmu dan memulai kehidupan baru tanpa melihat yang lalu
karena sudah berlalu. Dan aku harap kamu seperti itu juga bisa melupakanku
dengan kesibukanmu sendiri dan jangan pernah jadikan masa lalumu penghalang
bagimu karena ada kenangan manis bersamaku. Mungkin kalau kita bisa bertemu di
situasi yang tepat tanpa perlu rencana selalu ada cara mudah untuk berjumpa
tidak perlu saling mengabari karena ada firasat yang memberi tanda agar bisa
berjumpa satu sama lain. Meskipun rasa rindu telah hilang termakan waktu karena
sudah lama bagiku untuk tidak menghubungimu karena aku takut kejadian seperti
waktu itu bakal terulang kembali.
Aku mengharapkan perjumpaan yang tak
terlupakan hingga tua nanti, karena aku akan selalu mengingat kenangan dan yang
membuatku untuk mempertahakanmu dan tidak membiarkanmu larut dalam kesedihan
untuk kedua kalinya. Sekarang yang sedang
kulakukan selain melakukan perbaikan sambil melupakan dirimu yang dulu, adalah menunggu orang baru yang sebelumnya
aku tidak pernah mengenalnya atau menunggu dirimu yang sudah berubah berbeda
jauh dari yang dulu. Mungkin memaafkan kesalahanmu yang lalu itu mudah tapi
kenangan buruk yang kamu tinggalkan membuatku trauma untuk menerimamu kembali
seperti waktu itu, aku begitu menerimamu tanpa pandang bulu siapa dirimu yang
kulihat hanyalah sosok sederhana yang selalu menemaniku dan mengisi
hari-hariku. Kuakui kamu cantik, selain cantik kamu itu menarik dan aku hanya
bisa salah satu dari seribu wanita yang aku idam-idamkan hanya satu yaitu: “kamu”.
Aku masih ingat ketika itu, pertama kali melihatmu hatiku langsung berdetuk kencang
pertanda aku jatuh cinta pada dirimu yang membuat sulit lupa momen itu.
Lalu kami saling mengikuti di media sosial
tersebut, dan melanjutkan perbincangan yang terus berlanjut hingga lupa waktu.
Sebenarnya, aku baru kenal dengan dirimu tapi aku merasakan seperti sudah kenal
dari dulu saking dekatnya kami di awal perbincangan satu sama lain. Yang
membuatku terkejut adalah dia berani bercerita dirinya,kondisinya, dan
keluarganya dengan kata lain yang dipakai pada saat ini yaitu “Curhat”. Hampir setiap hari ku dengar
curhatanmu yang membuatku ingin mendengarnya tanpa henti, karena aku merasa
dirimu butuh orang yang mendengarkan. Terkadang aku merasa bahagia meskipun aku
hanya jadi tempat curhatmu dengan mudahnya aku begitu dipercaya tanpa ada rasa
takut membongkarnya. Selain itu juga kamu mengikuti sebuah bimbingan pelajaran
di sebuah daerah yang dekat dari rumahku, lalu aku mengikuti untuk bimbingan
disana agar lebih dekat ketika pulang ke rumah dan ternyata niatku yang
sebenarnya hanya bisa bersamanya dan lebih sering berjumpa. Kamu selalu
menanyakanku soal yang menurutmu tidak bisa dikerjakan sendiri olehmu aku
begitu bahagia bisa membantumu namun temanku yang satu kelas dan dia mulai
memanasi aku dengan begitu jelas dan terang-terangan. Aku begitu malu dan
mencoba untuk tidak peduli namun perasaan tidak bisa dibohongi lagi tidak
seperti mulut dengan mudah berbohong. Setelah pulang dari sana seperti biasa
aku melanjutkan obrolanku dengan dirimu yang begitu mengisi waktuku dan
hari-hariku dan seperti biasa kamu menjawab dengan cepat ketika membalas
pesanku.
Setelah itu, di malam yang gelap menutupi
senja aku mulai mencoba berkenalan denganmu di sebuah media sosial yang selalu
dipakai banyak orang yang membuatku tertantang untuk mengenal lebih dulu,
sebenernya aku dulu punya pengalaman buruk ketika berkenalan dengan seorang
perempuan selalu diacuhkan dan dibiarkan begitu saja. Akhirnya, aku melupakan
hal itu dan mencoba untuk berpikir positif beranggapan dia menerimaku apa
adanya. Ternyata dugaanku benar, dia begitu hangat dan santun menerima orang
yang baru berkenalan dengannya. Aku memulainya dengan menanyakan sebuah akun
media sosial yaitu “INSTAGRAM”. Ternyata dia menuruti apa yang kupinta, dalam
hati” yesss” ucapku.
Seperti biasa kamu begitu hangat dan dekat
bikin membuatku tidak ingin jauh darimu dan meninggalkanmu begitu saja. Hingga
hampir larut malam kami melakukan obrolan dan terkadang di pagi hari kamu pun
membalas pesanku, jujur itu yang membuat aku makin terbawa suasana untuk makin
memperhatikan dan mempedulikanmu. Bahkan sampai masuk sekolah pun aku masih
melanjutkannya dan seperti biasa selalu cepat menanggapi pesanku. Aku tidak
berani mengirim pesan selain kamu karena aku percaya kalau kamu itu seorang
perempuan yang berbeda dari perempuan yang kukenal dan masih begitu manis untuk
berhubungan dengan seorang perempuan yang baru kukenal.
Meskipun kamu menganggapku sebagai
sahabatmu tapi aku tidak pernah menyesali posisiku saat itu, dan aku berpikir
untuk mempertahankannya dan tidak membuat kamu kecewa ketika bersamaku.